Aug 22nd, 2009
RAMADHAN TELAH TIBA TETAPI KEGEMBIRAAN MASIH BELUM DIRASAI
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Hari ini saya gagahkan diri untuk menulis walaupun telah ‘tewas’ sejak 7 Julai 2008.
Ramadhan menjelang lagi. Ramadhan adalah bulan ‘bantuan’ Allah SWT kepada hamba-Nya dalam pertarungan dengan nafsunya sendiri. Tanpa bantuan Allah kita tidak akan mampu memelihara kelurusan hidup kita.
Sayyid Qutb telah menulis: “Pencegahan diri dari keinginan hawa nafsu merupakan tiang seri ketaatan. Keinginan hawa nafsu merupakan pendorong yang kuat kepada tindak-tanduk yang melampau dan kepada perbuatan-perbuatan maksiat. Ia menjadi punca segala bala bencana dan punca segala kejahatan. Jarang manusia binasa kecuali dengan sebab nafsu. Kejahilan mudah diubati tetapi penyakit mengikut hawa nafsu selepas berilmu merupakan penyakit jiwa yang memerlukan mujahadah yang bersungguh-sungguh dan memerlukan masa yang lama untuk mengubatinya”.
Perasaan takut kepada Allah merupakan dinding yang teguh untuk mencegah keinginan-keinginan nafsu yang kuat, tetapi dinding-dinding yang lain jarang dapat mencegah rempuhan hawa nafsu…”
Kita semua telah mengalami rempuhan nafsu yang sangat kuat ini yang sering kali menyebabkan kita tersungkur dan rebah ke dalam lubuk dosa. Dinding takut kepada Allah (khaufullah) kita mungkin tidak pernah dibina baik sejak kecil atau tidak pernah diperkukuhkan sehingga roboh pabila dirempuh oleh gelombang nafsu.
Pada usia 54 tahun masih lemah dirasakan apabila berdepan dengan rempuhan nafsu kerana saya berpendapat bahawa nafsu tidak pernah tua.
Allah SWT menghulurkan bantuan penyelamat dari semasa ke semasa tetapi kemuncak bantuan ini adalah Ramadhan. Ramadhan adalah penghulu bulan. Ramadhan adalah bulan berpuasa. Bulan Qiyamullail. Bulan Jihad dan bulan kesabaran.
Seorang khatib telah menyampaikan: “The month of Ramadan is a type of spiritual school to which we enter every year but yet unfortunately only few of us graduate. But Allah through His mercy has allowed us to come back to this school year after year that perhaps we eventually graduate through the lessons we draw from this month”.
Telah berapa kali kita memasuki Ramadhan dan melaluinya tetapi hasilnya tetap sama. Masih tidak tertingkat taqwa kita.
The hadeeth is a glad tiding to the righteous servants of Allaah, of the coming of the blessed month of Ramadaan. The Prophet (sallAllaahu ‘alayhi wa sallam) informed his Companions of its coming and it was not just a simple relaying of news. Rather, his intent was to give them the glad tidings of a magnificent time of the year, so that the righteous people who are quick to do deeds can give it its due estimate. This is because the Prophet (sallAllaahu ‘alayhi wa sallam) explained in it (the hadeeth) what Allaah has prepared for His servants from the ways towards gaining forgiveness and His contentment – and they are many. So whoever has forgiveness escape him during the month of Ramadaan, then he has been deprived with the utmost deprivation.
From the great favors and bounties that Allaah has bestowed upon His servants is that He has prepared for them meritous occasions so that they may be of profit to those who obey Him and a race for those who rush to compete (for good deeds). These meritous occasions are times for fulfilling hopes by exerting in obedience and uplifting flaws and deficiencies through self-rectification and repentance. There is not a single occasion from these virtuous times, except that Allaah has assigned in it works of obedience, by which one may draw close to Him. And Allaah possesses the most beautiful things as gifts, which He bestows upon whomsoever He wills by His Grace and Mercy.